HmI dan ke-sesuatu-annya

“Jangan pernah menutup keran pengetahuan. Semakin kita merasa pintar dan menguasai pengetahuan, maka sesungguhnya kita semakin bodoh” –Aida 'Nunuk' Anwar

Quote ini muncul seketika setelah aneka lumatan kata yang terdengar nyaring di sebuah ruangan berukuran 8x4 m2, berpagut mesra di kepala saya (alay bo’). Mungkin quote di atas multiinterpretasi, terserah kalian mau memaknainya seperti apa. Yang pasti, saya merasa semakin bodoh setelah secara sadar saya melangkahkan kaki menuju tempat yang penuh mubaraqah ini *hallah.
Baiklah, weekend minggu lalu sungguh berbeda dengan weekend biasanya. Kalau setiap Jum’at sore kepala saya sudah dipenuhi jadwal bertemu kawan lama, menemani Ibu belanja, menjaga adik bungsu kesayangan saya Farhan, tetap tinggal di rumah karena Ayah atau Ibu saya sedang ada urusan, nyalon di rumah atau bahkan hal yang paling menyita kemampuan IQ dan tenaga dalam saya, Skripsi!
Tiga hari saya di Bumi Tamalanrea Permai, Ruko Pelangi Blok. K No. 5 demi sebuah keinginan besar untuk belajar. Okey, mari kita sepakat bahwa takaran untuk mengukur pintarnya seseorang atau semangatnya belajar bukan diukur dari apakah ia telah berhasil meraih gelar dambaan jutaan mahasiswa se-Indonesia, Sarjana! Yah, sekali lagi, saya punya banyak alasan rasional mengapa saya harus menunda menyelesaikan kuliah sampai orangtua saya harus berulang kali berpikir bahwa mungkin saja saya memang benar-benar buntu mengeja 7 huruf itu! Paling tidak, saya telah sangat menikmati bagian kecil dari hidup saya selama 5 tahun, sampai akhirnya menggenapkan sisa 6 sks sebagai syarat kelulusan: belajar segala hal. Tolong, konteks belajar itu luas loh yah! hehe *membela diri jika tidak ingin dikatakan malas. hihihihi
Kalian pernah mendengar kata HmI? Masih asing yah? Atau bahkan sangat anti dengan HmI? Hahahaha.  Sayapun dulu begitu, saya mengenal HmI sebagai organisasi mahasiswa yang hanya punya nama besar, tapi tidak pernah berbuat apa-apa. HmI tempat berkumpulnya mahasiswa Islam yang malah tidak islami, HmI suka demo, mereka sombong! Atau paling parahnya menurut salah seorang senior saya di kampus saat saya tanyai soal HmI, 5 tahun lalu: “Kamu mau otak kamu dicuci? Awas loh, bahaya!” *nah loh
Sekelumit stigma itu selalu muncul dalam benak saya setiap mendengar kata HmI, sejak saya tercatat sebagai mahasiswa di Unhas  2007 silam, dan suatu ketika saya melihat pamflet di papan pengumuman di kantin fakultas soal Bastra (Basic Training HmI). Seperti biasa (seperti menggebeti seseorang, hihihihi) saya harus tahu dulu dong segala hal tentang apa yang hendak saya penuhi itu, paling tidak saya mengenali permukaannya *aisshh, apa sih.
Okey okey, sepertinya pengantar tulisan ini kepanjangan. Hihihihi. Jadi yah, Jumat Sabtu Minggu kemarin itu, saya akhirnya ikut Bastra HmI setelah sebulan belakangan merasa benar-benar terpanggil untuk mengenal HmI dan mencari pembuktian atas pertanyaan-pertanyaan saya soal HmI selama ini (setelah sekian lamanya!). Seorang kawan pena abad 21 (belum pernah bertemu soalnya, komunikasi hanya lewat teknologi smartphone) memperkenalkan HmI pada saya. Komisariat Fakultas Kedokteran Gigi adalah tempat yang direkomendasikannya, Ia seorang pengurus besar di HmI, alumni FKG Unhas. Maklum, menentukan apakah saya harus ikut Bastra di fakultas asal saya di FISIP Unhas atau bagaimana, saya masih belum tahu apa-apa.
Tiga hari saya menjalani proses pengkaderan, meski secara sadar saya harus mengakui bahwa sesungguhnya ini terlambat. Lagi-lagi, saya mencatat sejarah baru (meskipun agak miris), diantara 6 peserta (sebenarnya 13 peserta, tapi gugur satu-satu setiap hari hingga hari ketiga), saya lah yang berusia paling tua. Ketika ditanyai soal asal komisariat dan tahun angkatan, saya harus dengan jujur menjawab meskipun sambil nyengir kuda, bahwa saya mahasiswa angkatan 2007, satu-satunya diantara peserta dari angkatan yang jauh di bawah saya, 2010 dan 2011. Saya ingat dulu, hobi saya menyanyi dan bercuap-cuap di mic atau berdiskusi dengan orang-orang yang umurnya jauh di atas saya, menjadikan saya selalu dikenal sebagai yang paling muda, peserta festival karaoke yang paling muda, penyiar yang paling muda, atau seringkali berucap sok dewasa di hadapan teman-teman sekolah seumuran saya. Dan lagi-lagi, saya mendadak jadi pusat perhatian (entah ini sebuah kebanggaan atau bukan, sepertinya bukan). Rata-rata pemateri selalu menanyai saya soal mengapa saya begitu bersemangat hingga tidak merasa malu sedikitpun karena tercatat ‘ketinggalan’. Salahkah jika saya menjawab sederhana, saya ingin mengenal diri saya dan Tuhan. Jujur, pengetahuan saya soal Islam tidak begitu banyak, tidak pula begitu baik, meskipun tidak berarti bahwa saya tidak tahu apapun soal Islam. Panjang jika saya harus menyebutnya satu-satu di sini. *oh oh, diplomatis sekali saya ini. Hehehe
“Bagaimana mungkin kita bisa merindu dan mencintai yang kita cintai tanpa pernah bertemu dengannya? Maka kenalilah Ia dengan mengenal diri kita terlebih dahulu”
Lalu apa yang terjadi selama pengkaderan? Mari kita amati satu persatu.
Bastra HmI Angkatan ke-42 Komisariat Fakultas Kedokteran Gigi Unhas: Makassar, 25-27 Mei 2012

Acara pembukaan dengan penyerahan nama-nama peserta Bastra. Baru kali ini saya melihat ritual penyerahan seformal ini dengan 'ijab-qabul' yang panjang dan diucapkan dengan suara lantang.

Hari pertama hingga hari ketiga diisi dengan pengenalan dasar HmI dan materi soal Nilai Dasar Perjuangan HmI. NDP HmI ada 8:
1. Landasan kerangka berpikir ilmiah
2. Dasar-dasar kepercayaan
3. Hakekat penciptaan dan eskatologi (hari kiamat)
4. Manusia dan nilai-nilai kemanusiaan
5. Kemerdekaan individu dan keniscayaan universal
6. Individu dan masyarakat
7. Keadilan sosial dan keadilan ekonomi
8. Sains Islam

Coba yah, pertama kali saya mendengar dan menerawang definisi kata-kata di atas, saya sudah begitu amburadul rasanya. Apalagi jika harus mendalami tafsirannya. Alhamdulillah jawaban-jawaban yang diberikan oleh pemateri sudah cukup membuat saya lega. Dulu, saya bahkan tidak bisa menjawab saat ditanyai seperti apa Tuhan saya dan bagaimana proses penciptaan alam semesta jika ditinjau dari pertarungan pemikiran barat dan pemikiran Islam. Kini, paling tidak saya sudah cukup fasih menerangkannya dengan fitrah akal yang saya miliki sebagai manusia. *beugghhh!


ki-ka: Erwin (Fak.Teknik UNM), Rahmat (Fak. Seni UNM), Amri (Fak. MIPA Unhas), Satkar (Stikes Nani Hasanuddin),  Saya (FISIP Unhas), Nia (FKG Unhas)

Selain berjuang menegakkan dan mengembangkan agama Islam (ceileeh), saya selalu  rindu suasana tudang sipulung seperti ini (istilah Bugis, 'tudang' berarti duduk, 'sipulung' berkumpul bersama), menyilangkan kaki dalam suasana hangat penuh keakraban ditemani penganan dan segelas kopi! Hayo, dimana lagi saya bisa dapatkan suasana seperti ini kalau bukan  karena ber-organisasi? Dan secara jujur saya harus akui, meskipun tidak begitu lihai berorganisasi, pengalaman organisasi cukup banyak berderet di daftar Curriculum Vitae saya. Saya tidak mungkin menafikkan, organisasilah yang turut mengantar saya cukup lihai beretorika dan percaya diri berpendapat di depan banyak orang, termasuk menggombal *aahh, jangan senyum-senyum gitu dong bacanya. hahahaha









Ini namanya kakanda Iwan, mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas yang begitu antusias membagi ilmunya soal Keadilan Sosial dan Keadilan Ekonomi. Saya baru tahu kalau ketidakadilan pertama yang dilakukan oleh manusia ada sejak masa Nabi Adam as, saat rencana menikahkan anaknya, Qabil dan Habil. Sungguh, perbincangan di pukul 23.00 wita malam itu membuat saya begitu serius menyimak dan ikut berargumen dengan pengetahuan soal sosial dan ekonomi yang masih terbatas. Tuh, lihat saja coretan-coretan di whiteboard. Kalau di-reward-kan, dia telah sangat berhasil memperoleh penghargaan pemateri ter-cute *eh maksud saya pemateri ter-deeply explained baik dari segi tulisan maupun pemaparannya. Okey, selesai.
                               
Eing ing eeeng, tahu buku yang saya baca ini judulnya apa? "Sejarah dan Perkembangan Islam"  Buku ini seperti punya nyawa, punya tangan, marah, lalu menampar-nampar pipi saya sampai kemerahan, bahkan memar! Saya tahu secara sadar bahwa saya beragama Islam, tapi tidak memahami dengan baik tentang ke-Islam-an saya. Mestinya saya harus lebih sering bercermin!


Okey, laki-laki yang memegang buku berwarna biru itu adalah penerima penghargaan  peserta ter-smart  versi saya dan mungkin pemateri-pemateri lainnya. Bagaimana tidak, selama diskusi, dia lancar sekali menyebut nama-nama asing yang  entah pernah ditemuinya atau tidak, Karl Marx, Tan Malaka, Hegel, Aristoteles atau istilah-istilah super rumit yang pernah dia ungkapkan selama berdebat, materialisme dialektika historis, komunis utopis, dan bla bla bla. Kami menyebut dia, Marxism (penganut paham materialisme Karl Marx) bingung? Awalnya saya bingung, hahaha, sayapun dulu begitu. Tapi di Bastra, saya menemukan banyak pengetahuan baru soal Rasionalisme, Empirisme, bahkan mazhab HmI, yakni metafisika Islam. Sayang sekali, satkar tidak banyak menyebut soal adam, ibnu sina, kemampuan musa membelah lautan, atau hal-hal non-material lainnya. Ini menjadi pelajaran penting bagi saya dan peserta lainnya agar semakin banyak membaca soal perbandingan pandangan barat dan pandangan timur (Islam) dalam mencari kebenaran akan Tuhan dan alam semesta. Sebab jika tidak, maka kau akan gila!


"Bunga itu akan tetap wangi. Bunga itu akan tetap indah. Namun jika jarimu tertusuk lalu terluka karena durinya, maka itu karena kesalahanmu" 


Tahu maknanya apa? Akal adalah fitrah manusia dan Allah telah memberi petunjuk dalam Al-Qur'an, mana yang salah dan mana yang benar. Sesungguhnya jika kita gila karena mencari keberadaan Tuhan, itu sudah pasti karena kesalahan kita dalam menggunakan akal. Percayalah! Kira-kira begitu menurut penafsiran saya pada quote yang diutarakan salah satu pemateri di akhir diskusi.

Nah, ini sesi terakhir, penutupan bastra. Sekaligus kecup jauh pada pemateri dan segala yang telah berkenan menjadi bagian dari proses belajar saya *tsaaahhh

Baiklah, sebagai akhir dari tulisan yang sebenarnya bersifat pamer ini adalah ucapan terima kasih kepada:
* Allah SWT atas hidup yang penuh kedamaian ini. Saya hanyalah mahasiswa biasa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan ke-maha-an sang Khalik. Oh iyah, itulah kenapa huruf 'm' pada idiom HmI adalah huruf kecil, karena tidak ada yang 'M'aha kecuali Rabb!
* Terima kasih kepada Ibu dan Ayah saya yang selalu memberi banyak kesempatan untuk pergi selama 3 hari meninggalkan rumah. Bagi saya yang tidak terbiasa pergi jauh dari rumah dan menginap di tempat yang berganti-ganti alias nomaden di abad modern, tiga hari tentu termasuk waktu yang lama. (kecup basah buat mereka!).
* Kakanda drg. Muhammad Arief Rosyid Hasan, senior saya di Himpunan Pelajar dan Mahasiswa (HIPMA) Gowa Unhas yang telah menjadi perantara atas keingintahuan saya pada HmI dan Islam. Lewat tulisan dan twit-twitnya, saya belajar beberapa hal soal HmI dan hal-hal baru lainnya. Meskipun saya tahu dia sangat sibuk, alhamdulillah Ia tetap berkenan menjadi tempat bertanya yang baik. Katanya, "Belajar itu Jihad!"
*Fuad, ketua bidang pengkaderan HmI komisariat FKG Unhas yang telah banyak mendengar rewelan saya soal kapan, dimana, jam berapa, dan apa saya yang harus saya persiapkan sebelum Bastra. Terima kasih telah memberi pelayanan terbaik selama Bastra, telah menyediakan transportasi antar-jemput selama Bastra dan kompromi waktu (saya sempat-sempatnya menghadiri pesta pernikahan seorang kawan di sela-sela jam istirahat petang, hihihihi)
*Nia, peserta Bastra asal FKG Unhas. Meski baru kenal saat itu juga, Nia dengan percayanya menawarkan saya untuk menginap di kamarnya di Asrama Mahasiswa (Ramsis) Unhas selama dua malam (nggak curiga apa yah? kan bisa saja saya ini teroris atau seorang kleptomania misalnya, hehe). Terima kasih telah mendengar celoteh saya setiap malam menjelang tidur, terima kasih atas kue dan susu hangatnya di pagi hari saat sedang menikmati matahari (sebenarnya saya tidak suka susu putih, Nia pun dengan sigap langsung membuatkan saya teh hangat. Seandainya Nia tahu saya ini pencinta kopi? Hihihihi). Terima kasih juga atas ember dan gayungnya untuk mandi di WC Ramsis (soalnya nggak ada bak mandi), dan semuanya dan semuanya!
*Diana, mahasiswi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unhas, teman sekamar Nia, lebih tepatnya lagi, seseorang yang telah meminjamkan ranjangnya kepada saya untuk terlelap selama dua malam. Eh, dunia itu sempit ternyata. Perbincangan singkat saya dengan Diana di sebuah malam di Ramsis membawa saya langsung akrab dengannya. Mungkin karena berasal dari suku yang sama, Bugis. Dan senior-senior Diana adalah notabene kawan seperguruan saya selama masa KKN dulu *hallah
*terakhir kepada seluruh pemateri dan teman seperjuangan di HmI, terima kasih telah mau menerima kenyataan bahwa saya ini manis! hahahahahah.Terima kasih telah menjadi teman yang sangat ramah, teman yang sangat baik, teman yang sangat damai! Entah, begitu sayangnya Rabb sampai saya selalu dipertemukan pada lingkungan yang selalu memberi ketenangan dan dukungan sepenuh jiwa raga. Hihihihi

Sudah ah, kebanyakan narsisnya saya ini! Sampai jumpa di tulisan-tulisan saya selanjutnya yah! Semoga tulisan ini bermanfaat. Sungguh kalau semua yang saya alami selama tiga hari Bastra, baik fisik maupun bathin, harus saya ungkapkan lewat kata, ruang blog ini tidak cukup! Dan pada akhirnya izinkan saya berucap:

"Bagi seorang pecinta pena, kata dan makna adalah candu baginya!" –Aida 'Nunuk' Anwar

YAKIN USAHA SAMPAI! ^_^

2 komentar:

Muhammad Amri mengatakan...

Ceritanya menarik sekali kanda...:)
Good Job....

NUNUK anwar mengatakan...

thanks broo.. adaji namata' toh? :D

Poskan Komentar

Thanks for your comment..